Sejak pertama mengetahui keberadaan bahasa Nusa (dulu Batak), saya selalu rutin mencari tahu kabar perkembangannya. Maklum, model distribusi kompiler untuknya saat ini tidak lazim saya temui, yaitu melalui milis privat di Yahoo! Groups namun dengan pengumuman publik. Saya coba registrasi (ini sebelum memulai pengembangan bahasa saya sendiri, saat ini Jeruk), namun tidak ditanggapi. Tak apalah, malah jadi disibukkan urusan sendiri saja.
Akhir Februari lalu, saat penasaran lagi dengan Nusa, saya temui artikel menarik di situs Pak Bernaridho, pencipta bahasa ini. Mungkin beliau terkadang melakukan narcissism-search —seperti saya juga
— karena di sana beliau merespon kritik pedas seorang blogger dari Kalimantan Selatan yang, meski judulnya salah alamat, diarahkan pada pandangan beliau tentang software bebas. Sepintas lalu artikel Pak Bernaridho memang terkesan menghina software bebas, namun berkat tanggapan ini segala isu yang keruh bagi saya menjadi jelas, bahkan akhirnya mempengaruhi perspektif saya sendiri. Maka sebelum saya lancarkan tanggapan saya secara penuh, saya ucapkan terima kasih baik pada Pak Syamsuddin Ideris yang berani memulai proses dialektik ini maupun Pak Bernaridho Hutabarat yang bersedia merespon dengan kepala dingin.
Para pengembang software profesional tentu telah familiar dengan inti catatan; saya hanya mempertegas saja konsep yang jarang ditekankan dalam artikel lain. Now, on with the show!
Ditulis oleh Adhi Hargo
Ditulis oleh Adhi Hargo